Dari bukit panguk kami kembali menyusuri jalan-jalan desa Mangunan tetap dengan menaiki pikup. Jalan yang naik turun dan berkelok membuat kami cukup was was. Jantungpun berdetak lebih kencang.
Akhirnya kami tiba di sebuah pasar desa. pasarnya tidak besar, hanya terdiri dari beberapa bakul yang tidak lebih dari dua puluh pedagang. Pasar yang terletak di sebuah tanah lapang ini terbilang cukup rapi. Lantai pasar terbuat dari paving blok. Los para pedagang terbuat dari bambu bambu sebagai penyangga atap.
Sebagai pelengkap pasar ini, berdiri sebuah panggung hiburan. Anehnya di panggung ini tidak ada alat musik apapun yang biasa dipakai mengiringi sebuah lagu atau sebuah tarian. Yang ada di tengah panggung justru sebuah lesung tua (tempat menumbuk padi jaman dulu), kempul serta gong.
Pagi yang dingin membuat perut melilit. Hasrat hati ingin segera menyantap Tiwul. Tapi... eit. mau beli sarapan, ternyata uang rupiah kami tidak laku. Kami harus ke money changer untuk menukar rupiah dengan mata uang pasar setempat. Wah.... kayak keluar negeri saja nih !.
Mata uang di pasar ini berupa koin kayu dengan nominal 1 senilai Rp 1.000, nominal 2 senilai Rp 2.000, nominal 5 senilai Rp 5.000, nominal 10 senilai Rp 10.000 serta 20 senilai Rp 20.000.
Sementara kami sarapan, tampak di panggung beberapa perempuan tua mulai memukul mukul lesung thak thek thok thek thak thek thok thek....

Sejurus berikutnya lagu-lagu dolanan meluncur meramaikan panggung. Tembang tembang ceria macam "menthok tak kandani, numpak prahu layar dan lain-lain" segera memancing pengunjung untuk turut nyanyi dan jejogetan.
Aseeeek coy....
Akhirnya kami tiba di sebuah pasar desa. pasarnya tidak besar, hanya terdiri dari beberapa bakul yang tidak lebih dari dua puluh pedagang. Pasar yang terletak di sebuah tanah lapang ini terbilang cukup rapi. Lantai pasar terbuat dari paving blok. Los para pedagang terbuat dari bambu bambu sebagai penyangga atap.
Sebagai pelengkap pasar ini, berdiri sebuah panggung hiburan. Anehnya di panggung ini tidak ada alat musik apapun yang biasa dipakai mengiringi sebuah lagu atau sebuah tarian. Yang ada di tengah panggung justru sebuah lesung tua (tempat menumbuk padi jaman dulu), kempul serta gong.
Pagi yang dingin membuat perut melilit. Hasrat hati ingin segera menyantap Tiwul. Tapi... eit. mau beli sarapan, ternyata uang rupiah kami tidak laku. Kami harus ke money changer untuk menukar rupiah dengan mata uang pasar setempat. Wah.... kayak keluar negeri saja nih !.
Mata uang di pasar ini berupa koin kayu dengan nominal 1 senilai Rp 1.000, nominal 2 senilai Rp 2.000, nominal 5 senilai Rp 5.000, nominal 10 senilai Rp 10.000 serta 20 senilai Rp 20.000.
Sementara kami sarapan, tampak di panggung beberapa perempuan tua mulai memukul mukul lesung thak thek thok thek thak thek thok thek....

Aseeeek coy....





