Tuesday, August 25, 2015

ADA PRAU DI GUNUNG....

   Seperti diceritakan Desita lia


   Sebulan aku merencanakan untuk acara Agustusan di salah satu puncak gunung yang ada di Jawa Tengah, tentu saja bersama Achmad, lelaki yang menikahiku tujuh tahun silam. 
   Puji syukur kepada Tuhan karena telah memberikan kesempatan bagi kami untuk mencapai puncak Gunung Prau. Gunung Prau adalah gunung yang terletak di dataran tinggi Dieng, Wonosobo dengan ketinggian 2565 mdpl. 
  Aku mulai browsing mengenai jalur pendakian dan area di sana karena ini kali pertamanya aku akan ke sana. Hari Pertama (Sabtu, 15 Agustus 2015) Start dari rumah jam 9 pagi. Mbolos ngantor tentunya karena kerja itu sudah biasa, tapi naik gunung gak tiap hari kan... 
   9.30 pagi nunggu bus Jepara-Semarang di depan Masjid Purwogondo Kalinyamatan, agak lama juga sih nunggunya tapi yang penting aku bisa mendapatkan tempat duduk trus tidur di bus. Dari Kalinyamatan ke Terminal Terboyo Semarang kami ditarik Rp. 25.000,- untuk 2 orang. 11.30 sampai juga di Terminal Terboyo, dan kami ketinggalan bus arah Wonosobo 10 menit. Yaaaaah...
   Kami harus nunggu sekitar 1 jam untuk kedatangan bus ke sana. Sengaja melupakan waktu makan siang daripada kami tertinggal bus. Bus yang kami tumpangi bisa dibilang jelek banget, tapi mau gimana lagi yang penting sampai Wonosobo dengan selamat. Untuk tiket bus ke Terminal Wonosobo kami ditarik Rp. 30.000,-/orang. Tepat pukul 5 sore kami sampai di terminal Wonosobo yang adhem banget. 
   Baru turun dari bus sudah disambut oleh supir microbus arah Dieng. Mereka melihat tas cariel yang kami bawa dan dapat dipastikan tujuan kami adalah naik gunung. Sebelum berangkat, nyari toilet dan musholla dulu lah ya buat menjamak solat yang tertinggal. Akhirnya penuh juga microbusnya oleh para pendaki dari Jakarta dan Bandung. Naik microbus ini kami ditarik Rp.20.000,-/orang entah itu turun Patak Banteng atau Dieng, sama saja. Jalur microbus yang kami naiki nanjaknya luar biasa. 
   Makin lama makin miring nanjaknya. Tapi pemandangan di bawah sana luar biasa kecenya... lampu-lampunya udah kayak bintang aja. 18.30 sampai juga di Patak Banteng, sebagian yang memiliki tujuan ke puncak Gunung Prau turun di sini. Sebagian lanjut ke arah Dieng. 
  Tujuan utama adalah masuk rumah penduduk di sekitar pos untuk makan minum dan numpang ke toilet. Warga di sana ramah banget. Mereka senang dengan kedatangan para pendaki. Bagi warga Patak Banteng, ini rejeki. 
   Sejenak bisa slonjor di musholla itu luar biasa banget rasanya setelah kaki nekuk berjam-jam di bus. Sambil buka-buka ponsel, rencana sih mau update status di sosmed mau pamer lokasi, tapi mau gimana lagi, di sini tak ada jaringan Smartfren.
   Dengan gaya yang sok ramah, aku ngajak ngobrol perempuan yang selesai solat di sebelahku, 
Aku : “Rombongan dari mana, Kak?” 
Dia : “Jakarta, ni aku udah mau pulang kok.” 
Aku : “Lho, udah sejak kemarin tah? Kemarin berapa jam nyampai puncak?”
Dia : “Lima jam, kami jalannya santai karena belum terbiasa naik gunung.” 
Aku : “Oooo... yang penting selamat, Kak.” 
   Ketika aku mendengar kata ‘lima jam’ aku sudah sedikit panik. Gimana ga panik, jumlah yang mendaki sudah mencapai seribu orang sedangkan aku masih di sini. Trus nanti mau mendirikan tenda di mana coba? 
   19.30 aku dan Achmad mulai mendaki. Kami tak lupa berdo’a, yang kami lupakan adalah melapor ke pos pendakian untuk pendataan. Jalur yang kami lewati masih begitu mudah, lebar jalan mencapai 3 meter dan bebatuan yang tertata rapi sehingga masih bisa dilewati oleh kendaraan roda dua. Di ujung jalan kami menemukan pos 1, di mana tiket pendaki dicek oleh petugas.
  Ini memalukan dunia persilatan... kami tak memegangnya. Akhirnya aku masuk salah satu tenda dome yang di sana sudah ada petugas yang menerangkan tentang peraturan ini itu. Ok kami kena denda karena mendaki tanpa melapor di pos pendataan. Tiket untuk mendaki sebenarnya cuma Rp. 10.000,- . tapi kami kena denda 1 bibit pohon/0rang dan itu senilai Rp. 20.000,-. Jadi uang yang harus kami bayar adalah Rp.60.000 untuk kami berdua. 
   Usai melewati pos 1, jalan mulai setapak tanah lembut seperti bedak tabur jika terkena angin kita bakalan menutup hidung dan merem melek. Kanan kiri jalan setapak ini masih area kebun para penduduk sekitar, diantaranya tanaman cabe, kentang, paprika. (kayaknya sih begitu, karena malam jd ga terlalu jelas itu tanaman apa) Jalan sudah mulai macet, ngantri pula. Gimana ga macet, lha wong pada berhenti di tengah jalan sedangkan jalannya sempit cuma muat 1 orang gendhut.
   Akhirnya kami ketemu dengan pos 2. Jalur udah mulai hutan dengan pepohonan yang tak begitu besar. Jalan setapaknya juga masih ringan. Di perjalanan ini aku dan Achmad tak terlalu banyak berhenti, pinginnya jalan terus biar cepet sampai. Karena semakin lelet kita jalan, maka semakin banyak pula debu yang kita hirup. 
  Sesampai pos 3 jalur udah mulai nanjak miring luar biasa dan kadang kita harus membungkuk untuk menyeimbangkan tubuh supaya tak melorot lagi ke bawah. Pemandangan di bawah sana begitu memukau... lampu-lampunya warna-warni. Sorry, ga sempat ambil gambarnya karena perasaan lagi males aja untuk foto-foto. 
   Yeeeeessss.... Bukit Teletabies, itu artinya di depan itu sudah puncak. Lega rasanya. Dan ci luk baaaa.... ratusan tenda sudah terpasang di sana. 
   Ouw ouw ouw.... Rameeeee bangeeettttt.... ditambah angin yang kencang dengan suhu udara yang amat seperti kulkas. Aku mulai merasa sangat kedinginan. Aku mencoba mencari lokasi yang nyaman untuk kudirikan tenda. Yup, dapet. Dan ternyata perjalanan tak sejauh yang aku bayangkan. 1 jam 50 menit sampai di puncak, itu karena pas kita berangkat via Patak Banteng sudah berada pada ketinggian sekitar 1700 mdpl.
   Awalnya aku mau ambil gambar hotel berbintang seribu yang warna-warni, kuurungkan karena angin kencang dan suhu entah minus berapa derajad celcius malam itu. Kami putuskan untuk tidur saja, tapi tak bisa karena dinginnya menusuk hingga dasar tulang. 
   (Hallllaahhhhh!!!) Hari Kedua (Minggu, 16 Agustus 2015) 04.30 dini hari aq sudah terbangun karena banyak suara-suara rame banget di luar. Kubangunkan Achmad untuk Subuhan. Karena tenda sudah berjejer dengan tenda lain, akhirnya kuputuskan untuk sembahyang di dalam tenda, duduk, tayamum wudhunya. 05.15 kami keluar tenda dan sudah sedikit ada cahaya. 
   Kulihat puncak Prau, bok lhaaaa.... sudah dipenuhi orang berjejer-jejer dengan camera di tangannya. Aku juga tak mau ketinggalan moment ini tentunya.... (lebay mulai kumat) Ternyata memang keren banget sunrise jika dilihat dari Puncak Gunung Prau. Dan katanya, ini sunrise terindah seAsia Tenggara, katanyaaaa.... Moment indah harus diabadikan dengan berfoto-foto ria dengan berbagai gaya... hahaha... 07.00 kami kembali ke tenda untuk masak, lapar melanda. Sarapan mie rebus, ikan sarden, dan lontong gurih yang aku beli di terminal Wonosobo kemarin sore. Hmmmmm.... nikmat dan mengenyangkan. Usai sarapan, kami mulai packing karena udah ga tahan sama debu. Tak perlu pake bedak, dibedaki debu udah cukup kok...  
   08.00 tepat kami turun, tak lupa sampah juga ikut dibawa turun dong... Di tengah perjalanan turun gunung, aku terpukau lagi dengan pemandangan yang waaaoooow banget. Telaga warna. Di bawah sana terlihat jelas warnanya biru melebihi warna langit pagi ini. Kereeen... Kami berjalan pelan karena macet dan ngantri, gantian. Banyak juga yang mulai naik gunung pagi-pagi. Jelas lah tujuan mereka adalah merayakan HUT RI di Puncak Gunung. Sedangkan aku dan Achmad akan upacara di lapangan... hiks hiks hiks... biar maenstream tak apalah. 10.00 aku sampai di rumah penduduk, langsung masuk rumah, ikut mandi. Namanya juga penduduk nan ramah, aku dibuatkan oleh ibu yg punya rumah dua gelas teh gula batu yang rasanya bikin kangen, kata suamiku.
   Selain itu aku minta dipetikin buah Carica 10 Kg untuk kami bawa pulang. Waaah... ibuke seneng banget malah. Kedatangan kami akan ditunggu. Dia mendoakan kami supaya gampang dalam mencari rejeki dan sisa rejeki itu dibawa lagi ke rumah ini lagi suatu saat. 11.00 microbus menuju terminal mulai berangkat setelah kami menunggu 1 jam. Terkena macet itu sudah biasa. Tapi luar biasa pemandangan sekitar. Memang sesuatu yang indah harusa ada perjuangan fisik dan mental seperti ini. Mmmmm... tentunya didukung materi juga lah yaa... 18.30 sampai rumah dengan berjuta kenangan bersama alam Dieng, Gunung Prau, dan kamu... Tunggu jalan-jalan kami selanjutnya!!!